Postingan

Menampilkan postingan dengan label #CatatanBebas

Sebuah Seni Menikmati Kesibukan

Gambar
Pekan kedua bulan Oktober ini, saya cukup babak belur dengan beragam kesibukan yang tiba-tiba mengemuka bersamaan sekaligus. Di kampus, ada UTS dan beberapa tugas pelajaran. Di FIM, ada pra-tugas Pelatnas 22 dan pendaftaran campaign komunitas. Di FoSSEI, ada kepanitiaan kegiatan FLF (FoSSEI Leadership Forum). Di KSEI AkSES Lipia, ada persiapan acara DEI dan beberapa proker besar lainnya. Dan di tengah seluruh kesibukan tersebut, masih ada juga saya yang lagi-lagi terlanjur mengiyakan untuk mengikuti salah satu lomba olimpiade online Ekonomi Islam di Surabaya.  Haha, memang melelahkan dan memang lumayan luar biasa tenaga yang kita perlukan untuk menghadapi seluruh agenda tersebut. Karena ibarat berjalan di atas titian tali, kita harus super hati-hati dalam mengatur manajeman waktu agar tidak mengacaukan jadwal kesibukan lainnya. Satu tugas molor, ya tentu jelas merembet kepada molornya agenda-agenda lainnya. Pertanyaannya, apakah saya merasa stress menghadapi itu semua? Oh, sudah ba...

Pemuda itu Bernama Ibrahim ‘Alaihissalam

Gambar
Namanya Ibrahim ‘Alaihissalam, salah satu potret pemuda yang kepiawaiannya diabadikan oleh Allah dalam Al Qur’an. Kisah kepemudaan beliau ‘Alaihissalam, disebutkan Al Qur'an dalam sebingkai cerita perlawanan terhadap kebodohan kaumnya yang menyembah sesembahan berhala serta patung tak bernyawa. Perihal itu, sila kita seksamai bersama dalam serangkaian ayat 51 hingga 72 dari Surat Al Anbiya, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyematkan secara khusus gelar “pemuda” kepada beliau ‘Alahissalam pada firman-Nya ayat ke 60 yang berbunyi, قَالُوا۟ سَمِعۡنَا فَتࣰى یَذۡكُرُهُمۡ یُقَالُ لَهُۥۤ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ Artinya : “Mereka (kaumnya) berkata, ‘Kami mendengar ada seorang PEMUDA (فتى) yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim.” Ini menarik. Karena bila Al Qur’an telah menuliskan suatu kisah, maka niscaya selalu berujung pada dua hal kemungkinan : sebaik-baik cerminan atau seburuk-seburuk permisalan. Dan beliau – Ibrahim ‘Alaihissalam-, sudah barang tentu merupakan bagian dari golong...

Pantang Nanggung, Sebelum Turun Panggung

Gambar
Tentang ikhtiar, saya punya cerita yang menarik. Syahdan, di salah satu kegiatan internal FIM Jakarta, saya didapuk menjadi penyiar acara pada malam tersebut. Tajuk pembahasan yang diangkat ketika itu ialah "Bounce Back", seputar tentang bagaimana kita berusaha untuk bangkit sebakda terjatuh dalam jurang keterpurukan.. Kegiatan ini, sedianya memang di-setting sedari awal seperti sebuah siaran radio, dimana pendengar bebas berbicara dan bercerita perihal tema yang disepakati bersama. Tugas saya ialah memandu jalannya acara agar tetap menarik, dan mengorek setiap cerita yang mengemuka agar jangan sampai kehilangan kedalamannya masing-masing. Salah satu cerita yang paling berkesan, adalah cerita dari Presiden FIM Jakarta sendiri, @izzudinfaras, ketika mengulik kembali salah satu momentum beliau di masa SMA terdahulu. Ceritanya begini. Dulu beliau sempat mengincar ingin masuk salah satu SMA favorit / terbaik di Jakarta ketika itu. Sayangnya, keinginan tersebut tidak berhasil dika...

Pulang di Masa Pandemi

Gambar
Perjalanan pulang menuju Yogya-Solo beberapa hari terakhir, menyadarkan saya satu pelajaran tentang betapa pentingnya menghindarkan diri dari terjadinya fitnah. Meski sudah mengantongi hasil non-reaktif dari Rapid Test Covid-19 di Jakarta, tapi tetap itu tak serta menjamin ketenangan di hati masyarakat kampung. Prasangka orang jauh lebih cepat daripada penjelasan-penjelasan kita . Itu wajar. Oleh karena itu, berhati-hati sebelum bertindak merupakan suatu keharusan agar kita dapat bersikap lebih bijak. Setidaknya tujuan utama kita, -bersua bersama keluarga, mencicipi masakan Bunda-, sudah dapat terlaksana dengan baik. Adapun sisanya, -kesenangan dari sebuah silaturrahmi bersama sahabat lama, keseruan petualangan ke tempat-tempat baru-, ah kiranya masih bisa kita perjuangkan di lain kesempatan. Atau bahkan kalaupun memang silaturrahmi tadi tetap dirasa perlu, komunikasi via virtual kini sudah sangat memungkinkan untuk dilakukan, ya kan? Kita harus berdewasa bersama. Tidak perlu membuat g...

Dilarang Tertawa di Negeri Ini!

Gambar
Di suatu negeri antah berantah, pada suatu masa, diperundangkan suatu aturan baru : tertawa kini dilarang, barangsiapa yang ketahuan melakukannya akan ditindak dengan pidana tegas. Maka di tahun-tahun tersebut, berdirilah para pelawak meneruskan garis perjuangan, menghidupkan tawa publik meski sekedar di ruang-ruang sempit seukuran 3x3 meter. Mereka terus sigap memicingkan mata, melirik waspada jika sewaktu-waktu digerebek aparat keamanan. Juga di tahun-tahun tersebut, para komedian muncul sebagai sosok pahlawan baru di pusat-pusat peradaban. Maklum, ketika tingkat stress bablas memuncak hingga penghujung ubun-ubun, terhimpit kebutuhan kehidupan dan kejaran aneka kerjaan, humor-humor mereka seakan menjadi oase di tengah kepenatan pikiran dan kegersangan negeri tersebut. Meski rakyat sekedar dapat mengunci rapat-rapat tawa mereka di pangkal tenggorokan, tapi setidaknya, di alam angan mereka bebas terbahak selebar-lebarnya. Lalu di tahun-tahun tersebut, apa yang dilakukan para wakil raky...

Hopplaa! Menghargai Kegetiran Kisah Cinta

Gambar
Photo by  Ankush Minda  on  Unsplash Apakah setiap kisah cinta harus selalu berakhir bahagia? Sebagai seorang (mantan) pembaca akut novel-novel bergenre romantis, saya tentu termasuk pendukung garis keras untuk ending cerita yang serba manis.  Ada kepuasan tersendiri ketika tiba di penghujung halaman dan ternyata semua peserta lelakon dapat hidup berbahagia. Protagonis utama bersama sosok yang diidamkannya. Sedangkan tokoh pembantu, yang biasanya bertepuk cinta sebelah tangan, mendapatkan ganti yang sama sepadan. Ah, win-win solution . Begitu damai. Tapi kemudian saya belajar menghargai bahwa kehidupan nyata tak selalu selurus dan semulus itu semua. Dan novel yang membantu saya dalam memahami hal tersebut adalah "London : Angel" karangan Mbak Windry Ramadhan. Itu kali pertama saya tidak mencak-mencak ketika bertemu ending yang tak sesuai harapan. Saat tiba di akhir lembar penghabisan, dimana endingnya terasa begitu menyesakkan dada -menurut saya- ,  perasaan ya...

Menyesap Kopi dan Menatap Hujan

Gambar
Photo by Ian Keefe on Unsplash Ketika hujan turun, kita bergegas lari mencari tempat teduh. Namun anak-anak kecil justru tergesa menyongsong air yang tumpah ruah dari langit. Mereka menari bahkan berlari, seakan hujan adalah berkah yang datang satu dasawarsa sekali. Melihat itu, seringkali sebagian dari diri kita ikut memberontak. Hasrat alami akan masa kanak yang telah terlewat, serta keinginan untuk sekali lagi menyesap kesenangan yang tiada duanya tersebut. Di momen itu, kita berhadap-hadapan dengan panggilan yang  pernah menghiasi diri kita. Godaan berjudul :  “Aku ingin hujan-hujanan.” Bagi dunia kita hari ini, bersikap kanak-kanak sesudah masa pubertas adalah sebuah aib. Dewasa adalah dewasa. Masa kanak serta remaja merupakan sesuatu yang telah lama berlalu. Kita dituntut membuang sikap ‘anak-anak’ dalam diri kita. Maka indikasi paling jitu adalah saat kita melihat anak-anak bermain dengan bebasnya, namun kita merasa gengsi untuk ikutan, menganggap kita ‘bukan level-nya...

MAKANAN : Bakso dan Kita Manusia

Gambar
Cerita kita hari ini datang dari semangkuk lezat hidangan bakso. Tentang bakso, pernah berpikir mengapa cita rasa dari tiap bakso bisa begitu berbeda satu sama lain? Sama-sama semangkuk bakso, mengapa bakso dari warung disana bisa begitu menggigit, sedangkan bakso satunya terasa sedikit lebih asin? Mungkin ada banyak jawaban. Namun disini, melalui tulisan singkat hari ini, mari coba kita telusuri beberapa jawaban yang kiranya dapat membantu kita memahami lebih jauh perihal kehidupan kita sebagai seorang manusia. Jadi, mengapa tiap-tiap bakso bisa begitu berbeda cita rasanya satu sama lain? Well , boleh jadi karena memang sedari awal ada perbedaan mendasar dari kualitas bahannya masing-masing. Seyogianya, bahan yang berkualitas tinggi, tentu akan menghasilkan kelezatan yang lebih baik pula, ya kan? Tapi itu bukan satu-satunya jawaban. Mungkin juga karena ada perbedaan pada resep, bumbu, dan metode memasaknya. Yang satu menggunakan beberapa bumbu khusus, sedangkan yang satunya tidak. Yan...

MAKANAN dan Globalisasi

Gambar
Masih tentang makanan, saya jadi kian takjub dengan yang namanya globalisasi. Globalisasi bukan saja mendekatkan informasi yang jauh, atau menjauhkan keberadaan yang dekat, namun ternyata juga mampu menghidangkan sepiring lengkap beragam masakan dunia langsung di hadapan kita. Tengoklah Jakarta. Di Ibukota Indonesia ini, Anda dapat menemukan begitu banyak usaha kuliner yang menyajikan masakan khas dari daerah-daerah Nusantara. Ada warung makan nasi Padang dengan Rendang sebagai andalannya. Kemudian ada pecel lele Lamongan. Lalu mie Aceh. Berikutnya Coto Makassar. Bakso Malang dan Solo. Gudeg Yogyakarta. Soto Banjar. Pempek Palembang. Roti Bakar Bandung. Dan masih buanyaaaak lainnya. Itu masih belum seberapa. Di beberapa sudut Ibukota, juga terdapat restoran-restoran yang memajang masakan mancanegara dalam urutan menunya, seperti masakan Oriental, masakan Timur Tengah (yang ini saya sering mampir, hehehe), masakan India, ataupun masakan Eropa. Hari ini mau makan apa? Di Ibukota, jawaban...

MAKANAN dan Peradaban Manusia

Gambar
Pagi ini, saya baru saja menghabiskan film " Aruna dan Lidahnya ". Sebuah tontonan menarik di penghujung pekan, memanjakan mata dengan beragam racik kuliner dari beberapa kota Nusantara. Tapi saya di sini bukan sedang hendak me- review film tersebut. Itu nanti bisa kita obrolkan santai bersama secangkir kopi dan teh jika bersua bersama. Bakal lebih asyik dibanding menyimak ulasan dalam tulisan, ya kan? Hehe... Bicara tentang makanan, saya menelusuri banyak gagasan. Bahwa ternyata perihal makanan, rupa-rupanya memang menyimpan khazanah yang begitu luas. Setiap cita rasa, mewakili beragam sudut pengetahuan yang pernah dimiliki umat manusia. Dari Sabang sampai Merauke, dari ujung selatan Afrika hingga penghujung utara tanah Rusia, semua punya resepnya masing-masing. Meski berbeda rupa dan nama, sekali disajikan, tetap saja menggoda sensasi kelezatan di lidah. Itulah makanan, dengan ke-universal-an pesonanya. Makanan sendiri merupakan bukti dari proses adaptasi peradaban manusia...

Patah-Hati

Gambar
[Source : Here ] Patah hati itu, yo , sedikit banyak memang menyakitkan, boi. Namanya juga "patah", yang bila merujuk KBBI diartikan sebagai (1) putus tentang barang yang keras atau kaku, biasanya tidak sampai bercerai atau lepas sama sekali; atau (2) terhenti, tidak dapat berlanjut lagi.  "Patah Hati" sendiri disitu diartikan lebih lanjut sebagai (1) hilang keberanian; (2) hilang kemauan, tidak mau berusaha lagi; atau (3) kecewa karena putus percintaan, kecewa karena harapannya gagal. Makanya patah hati itu dimana-mana bawaannya selalu lesu dan tak bertenaga. Ada kecewa yang bersemai di rongga hati yang kosong sebahagian. Itu wajar. Tapi, boi, tentang kata "patah", angan ingin kita tak boleh selamanya tentang pesimis dan putus asa.  Tentang "patah" , kita juga sebaiknya mengingat dengan baik satu pribahasa yang telah sering kita dengar : " patah tumbuh hilang berganti " , bahwa segala sesuatu yang hilang selalu akan ada penggantinya. I...

Memaknai Perjalanan

Gambar
[Source : Here ] Pernah tidur di atas dek kapal? Saya pernah. Di atas kapal yang sedang melaju membelah ombak menuju Pulau Madura, saya tertidur begitu nyenyak selama beberapa saat. Terbuai bersama angin laut yang begitu sejuk, dan keindahan malam berbintang di angkasa awan, meski terkadang tercium bau mesin kapal, tapi amboi tetap saja, itu salah satu malam terbaik yang pernah saya miliki.  Pernah tidur di dalam gua di atas puncak gunung tanpa selimut? Rasanya dingin begitu menggigil. Di ketinggian Lawu, saya dipaksa tidur dengan sekedar sarung dan pakaian di badan. Angin bertiup kencang menusuk hingga sembilu, membuat tidur kami tak terasa nyenyak sama sekali hingga mentari terbit di ketinggian pagi. Pernah tidur di depan air terjun? Asyik bangeeet. Di Curug Sodong, Sukabumi ada 3 tingkat air terjun. Setelah perjalanan yang lumayan ekstrem, kami berhasil mencapai tingkat paling atas. Disitulah kemudian saya asyik merebahkan badan, sambil menghadap air terjun yang menumpahkan air ...

Tentang Kata-Kata

Gambar
[Source : Here ] Kata-kata adalah kekuatan.  Di tanah rantau Maninjau, saya berkenalan dengan salah seorang Gurunda, yang ketika beliau mempunyai anak pertama, sedari kecil sudah ditimang-timang sembari berucap, " Ini besok kalau udah gede masuk Gontor ya..... " Ajaib. Ketika masa usia bersekolah tiba, anak tersebut tenyata dinyatakan lulus diterima di Pondok Pesantren Gontor Putri 1, ribuan kilometer jauhnya. Kata-kata adalah kekuatan. Coba tebak, mengapa seorang penyair Chairil Anwar, tetap semerbak harum namanya bahkan hingga hari ini? Karena dia mampu memberikan nyala kekuatan untuk sebuah bahasa baru, -bahasa Indonesia-, yang ketika itu baru berusia seumur jagung. Dengan kosakata yang masih serba terbatas, dia mampu berceracau menggugah semangat serta kesadaran para pembaca. Mewarnai revolusi perjuangan sebangsa setanah air, dan pada puncaknya, membantu memperkaya khazanah kebahasaan bahasa Indonesia itu sendiri. Kata-kata adalah kekuatan. Bahkan doa-doa yang sedari dulu...

Hak Sesama

Gambar
Boleh jadi, sesuatu yang menghalangi lancarnya rezeki kita, adalah karena masih adanya hak-hak sesama yang tertahan gegara kita. Boleh jadi, sesuatu yang menghalangi terijabahnya doa-doa kita di hadapan langit, adalah karena masih adanya diri kita yang tersangkut kezhaliman pada orang lain. . Dalam luka dan ketidakrelaan, mereka lantas memunajatkan balasan yang adil dari sisi Dzat Yang Maha Melihat. Dan tentu, Allah begitu dekat dengan panggilan mereka yang terzhalimi. Maka, adakah dari kita yang masih sepatutnya merasa aman dari berbuat semena-mena terhadap hak sesama? _______________ 📌 Masjid Agung Sumenep, Madura 📸 @zuhair_najm _______________ Ibukota Lama, 19 Ramadhan 1441 H Mengingat Kenangan Lama

Negeri Gaduh

Gambar
Di negeri gaduh, semua bebas bersorak, semua bebas berteriak. Suara 1 orang ahli, akan tenggelam bersama pekik semarak ribuan komentar para penonton yang asyik menimpali tanpa tahu subtansi apapun. Di negeri gaduh, kebenaran dan kepalsuan dapat dibolak-balikkan semudah dengan menggerakkan opini publik. Jika dahulu segala kabar dianggap benar sampai adanya bukti yang menyatakan sebaliknya, maka kini, justru segala informasi yang beredar harus kita anggap salah sampai dibenarkan oleh bukti yang kuat, yang sayangnya bukti kuat itupun kini masih bisa disamarkan dengan segala macam cara.  Di negeri gaduh, dunia nyata saja sudah cukup membuat suntuk dengan teriakan-teriakan bising para rakyat manusia. Tapi yang lebih menakjubkan, dunia maya bahkan ternyata jauh lebih gaduh daripada itu semua. Berlindung di balik identitas anonim, semua orang tiba-tiba bisa menyamar menjadi pakar yang begitu lihai mengemukakan pendapat. Dibekali dengan kemampuan ciamik dalam mengolah kata-kata, ditambah d...

Jiwa Merdeka

Gambar
Ketika takut kita hanya untuk Allah, maka ketika itulah jiwa kita menjadi jiwa yang merdeka. Jiwa-jiwa yang merdeka tidak dapat dibeli dengan harta hadiah, gelar pujian, ataupun pangkat jabatan. Jiwa-jiwa yang merdeka hanya dapat ditukar dengan kemuliaan surga. Jiwa-jiwa yang merdeka tidak dapat diancam dengan rasa lapar, kemiskinan, penjara, pengusiran, atau bahkan dengan kematian. Karena justru merekalah barisan terdepan yang merindukan kematian itu sendiri. Jiwa-jiwa yang merdeka itu indah, bertaut dalam ukhuwah, tolong menolong dalam kasih dan sayang, saling mengenal dan menyapa, tersenyum meski belum bertukar nama. Jiwa-jiwa merdeka adalah mereka umat muslim itu sendiri, ketika dimana puncak takutnya hanya ialah kepada Allah semata. Ikhlaskan niat, Kawan. Semoga Allah berkenan menyatukan kita bersama dalam jiwa-jiwa yang merdeka seutuhnya. ------------ Lenteng Agung, 24 Ramadhan 1441 H - 19.01 Catatan Maninjau

Memberi Setengah-Setengah

Gambar
Dalam salah satu perjalanan hidup, saya bertemu seorang sahabat yang unik. Beliau merupakan kepala asrama di salah satu pesantren di daerah Jawa Tengah. Uniknya dari beliau, setiap membeli barang untuk keperluan pesantren, beliau selalu meminta pesanan barang dengan kualitas terbaik.  Pernah suatu ketika pesantren kami sedang mencari meja mengaji untuk anak-anak, kata beliau kepada sang tukang, "Pak, saya minta dibuatkan meja dengan kualitas kayu terbaik yang ada disini. Harga gak masalah." Saya sendiri hanya geleng-geleng kepala. Mengingat tak jarang diantara kita, -apalagi untuk setaraf pesantren rintisan seperti yang saya singgahi sewaktu itu-, yang lebih mengutamakan kuantitas ketimbang kualitas. Dengan kondisinya keuangan yang tentu tidak seleluasa lembaga lain, bukankah hal wajar untuk mencari barang berkualitas biasa, asalkan bisa mencukupi kebutuhan minimal pada saat itu? Tapi sahabat saya satu ini, ketika saya kemukakan argumen di atas, beliau hanya enteng menjawab, ...

Selamat Lebaran!

Gambar
Ramadhan tahun ini mungkin memang berbeda. Jika di tahun-tahun sebelumnya kita dapat berkumpul bersua bersama sanak famili, bertukar senyum dan berpeluk maaf langsung, tahun ini mungkin semua itu belum bisa kita lakukan terlebih dahulu.  Ada bahaya virus Corona yang mengintai. Mengancam kesehatan orang-orang terdekat yang kita kasihi, bila kita abai tak mengindahkan peringatan para pakar ahli ilmuwan. Tapi tak mengapa. Karena lebaran adalah tentang momentum kebahagiaan, bukan?  Kita, sekalipun baru sekedar berjauh jarak dan waktu, tetap dapat mengikhtiarkan beragam kebaikan di hari raya.  Silaturrahmi tetap dapat terjalin meski baru melalui gawai virtual. Ukhuwah masih tetap dapat diperat sekalipun melalui sambungan telepon. Dan THR, aha, selalu bisa dikirimkan via rekening masing-masing bukan? Ehe. Hari raya besok, tidak ada alasan untuk tidak berbahagia. Meski semua berada dalam karantina di rumah masing-masing, bahagia adalah tentang urusan hati dan perasaan. Kita sela...