Postingan

Menampilkan postingan dengan label Batavia's Diary

BATAVIA's DIARY: Tentang Karantina dan Kesibukan Kita

Gambar
Photo by Adam Nieścioruk on Unsplash Dear Diary, Ibukota yang kita kenal, sekarang sepertinya mulai memasuki babak baru dalam memerangi penyebaran virus Covid-19. Dari informasi yang beredar, kudengar bahwa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bakal efektif diterapkan per Jum'at hari ini. Ah, itu kabar yang melegakan. Di tengah kondisi dunia yang kurang bersahabat, dimana media dan  ruang maya rentan dipenuhi berita-berita yang kurang menggembirakan, semoga kabar barusan sedikit banyak turut mengangkat harapan optimis kita sebagai seorang manusia. Itu membuat tenang. Setidaknya bagi aku seorang diri. Pemerintah mulai menunjukkan keseriusan mereka dalam sebuah aksi tindak nyata. Itu suatu hal yang patut kita acungi jempol, ya kan?  Tapi, dear diary, disini aku ada bukan untuk membicarakan politik pemerintah dan oposisi. Kurasa, biarkan orang lain yang lebih (sok) mengerti saja yang mengambil bagian pekerjaan itu. Sedang aku, cukuplah sekedar menuliskan sudut pandang baru y...

BATAVIA’S DIARY : Mati Rasa

Gambar
Dear Diary, 2 tahun hampir berlalu. Tentang Ibukota, apa kabarku? Jika dahulu di masa-masa awal kedatanganku di Ibukota aku setengah mati membenci lalu-lalang kemacetan yang saban detik terjadi, kini beberapa saat kemudian, entah kenapa rasanya aku mulai terbiasa dengan itu semua. Jika dulu macet yang sekejab sudah sanggup membuatku manyun berjam-jam, mengeluh sepanjang hari, sekarang semua terasa…… biasa. Aku kehilangan empati dan simpati. Bahkan beberapa kali, aku pernah berjalan menyibak macet tanpa memikirkan apapun. Hanya berjalan menerabas antrian kendaraan di hadapan. Mengikuti arus dan terus menerjang maju. Tentang Ibukota, apa kabarku? Ah seiring waktu, sejujurnya memang ada yang kian berubah dalam diriku. “Tapi bukankah itu pertanda baik? Itu artinya kamu sudah berhasil sebagai manusia. Untuk beradaptasi. Untuk menyesuaikan diri...” kata seorang kenalan. Yup. Memang betul. Tapi dalam skala yang lebih luas, itu mulai membuatku bertambah khawatir. Seiring wak...

M-Menelusuri Asal Muasal Nama Ibukota

Gambar
[Source : Here ] Jakarta  adalah Jakarta. Namun jauh sebelum orang-orang mulai menyebut ‘Jakarta’ sebagai  nama daerah di bagian utara Pulau Jawa, telah terbentang lebih dahulu sejarah nan panjang di balik asal-muasal penamaan daerah tersebut. Di masa Kerajaan Sunda, tempat ini dikenal dengan sebutan Sunda Kelapa. Lalu menjadi Jayakarta sesudah keberhasilan Fatahillah bersama pasukan gabungan Demak-Banten dalam menghadang serangan Portugis pada abad ke-16. Jayakarta, setelah itu mengalami beberapa perubahan transliterasi karena adanya perbedaan latar belakang dalam penulisannya. Orang Belanda menulis nama kota ini dengan “ Jacatra, Jakatra, Iakarta . Demikian juga dengan bangsa Portugis yang menulis dengan ejaan yang berbeda seperti “ Xacatara ” dan sebagainya.  Hal yang lumrah sebenarnya, mengingat di masa tersebut, belum ada standarisasi baku dalam penulisan nama-nama tempat di Asia pada umumnya. Sehingga para pendatang biasanya menuliskan nama-nama tersebut sesua...

KEPING KEENAM BELAS: Untuk Apa Kita Hidup?

Gambar
[Source : Here ] o-●-o-●-o-●-o-● . Di Ibukota, aku melihat banyak hal menakjubkan. . Gedung-gedung pencakar langit menjulang begitu perkasa. Beberapa menjadi kantor tempat perusahaan-perusahaan ternama bermarkas, sedang lainnya merupakan apartemen hunian bagi para borjuis Ibukota.  Mewah, berkelas, dan tentu tingginya bukan main, boi. Saking tingginya, aku sampai harus mendongakkan kepalaku 180 derajat bila ingin menengok puncak teratasnya. Aih, hebat nian, bukan? . Di Ibukota, aku juga acap menyaksikan sliweran panjang kendaraan nan mahal, yang saking mahalnya, aku bahkan merasa sangsi untuk bisa menemukannya di kota asalku. Semua saling berlalu-lalang di jalanan metropolitan, menyisakan aku yang menghirup polusi tambahan di pinggir trotoar saban hari. . Di Ibukota, setiap kali berkunjung ke pusat keramaian, aku begitu mudah menemukan aneka gerai makanan yang memasang harga selangit untuk hidangan termurah mereka. Pramusaji berlomba memasang senyum paling manis,...

BATAVIA's DIARY : Dari Tempat Berteduh

Gambar
[Source : Here ] Hujan mengguyur begitu deras. Membasahi belantara Ibukota yang sebulan terakhir kering kerontang diterpa panas kemarau. Ada aku yang berteduh di kafe pinggir jalan, menanti reda yang tak kunjung tiba. Ini anugerah. Setidaknya sesaat yang sekejab ini membantuku mengingat betapa menakjubkannya harmoni serunai air yang menggerimisi Ibukota. Tentang Hujan dan jalanan Ibukota, aku tiba-tiba terpikir : apa yang paling berbahaya bagi Ibukota dan segenap penduduknya? Apakah banjir yang saban tahun selalu menggenangi pemukiman Ibukota? Apakah sampah plastik yang dari hari ke hari kian menggunung tak terbendung di Bantar Gebang? Apakah macet yang terus mengular makin panjang seiring bertambahnya kendaraan bermotor? Ataukah ketimpangan sosial antara si kaya dan miskin yang kian terasa jomplang? Ah, aku kira tidak begitu. Ada yang jauh lebih berbahaya dari itu semua. Tentang ketidakpedulian. Ketika orang-orang memutuskan untuk berhenti peduli, ketika orang-orang m...

BATAVIA’s DIARY : Dari Pinggir Jendela

Gambar
[Dok. Pribadi] o-●-o-●-o-●-o-● . Dear Diary, . Akhir-akhir ini, saya suka sekali berkeliling Ibukota dengan moda transportasi bis TransJakarta. . Murah meriah, cukup 3500 rupiah, saya sudah bisa bepergian dari ujung ke ujung, selama belum keluar dari halte pemberhentian. . Tapi bagian yang paling asyik adalah saat-saat ketika saya berada di pinggir jendela bis. Duduk takzim menatap pemandangan di luar, lalu -ah- waktu seakan ikut berhenti terdiam. . Pikiran saya berputar-putar dilamun cakrawala angan. Menghitung peradaban. Mengukur pencapaian. Tentang negeri ini. . Di tepi jalan, orang-orang pinggiran berjalan tanpa alas kaki. Di pinggir pusat perbelanjaan, borjuis-borjuis mengantri memanggil antrian taksi. . Di tengah-tengah keramaian, angkasa awan dikoyak oleh kehadiran pencakar langit. Bumi pertiwi dikeduk begitu dalam, demi memancangkan paku-paku pondasi penopang tanda kegagahan di atasnya. . Bis masih terus berjalan. . Ibukota, jelang petang, jutaan manusia ...

BATAVIA’s DIARY : Ramadhan Ibukota

Gambar
[Dok. Pribadi] ●-o-●-o-●-o-● . Dear Diary, . Ini Ramadhan pertamaku di kota Batavia. Dibandingkan dengan Maninjau yang sama-sama merupakan tempatku merantau, tentu ada begitu banyak perbedaan yang hadir diantara keduanya. . Maninjau begitu tenang. Pelosok tepi danau nan indah, saban maghrib di sana terasa begitu syahdu, terlebih bila seisi pesantren diundang berbuka di rumah-rumah penduduk. Aih, nikmatnya. . Djakarta tak begitu. Sempurna berbalik 180 derajat. Di Ibukota, gema alunan adzan berbuka, lumrah terdengar beriring bersama dengan bunyi klakson jalanan. Saling bersahut, di tengah puncak kemacetan metropolitan. . Bahkan di hari pertama Ramadhan, aku genap melewatkan waktu berbuka di atas sepeda motor yang asyik menyibak kerumunan panjang antrian kendaraan. Dengan sebiji kurma, bismillah, sambil tetap menge-gas laju, berbukalah kami ketika itu. . Apakah terasa cukup menyenangkan? Ah, tentu tidak, kawan. Seorang diri, jauh dari kehangatan rumah tempat keluarga terde...

Batavia’s Diary : Another Beginning

Gambar
Dear Diary, Apa kabar, Djakarta? Ah, kota ini akan selalu tampak baik. Bahkan dari hari ke hari, kota ini kian maju dan modern. Lalu, apa kabar diriku yang kini? Aha, ini dia kawan, yang baru agak sedikit mengkhawatirkan. Kabarku kurang baik. Bahkan sepekan pertama di Ibukota ini, aku justru terkapar sakit di kamar kontrakan. Mual, muntah, pusing, hingga puncaknya tekanan darahku sempat turun ke titik nadir. Djakarta rupa-rupanya memang berbeda jauh dari Solo, Jogja, apalagi Manindjaoe. Sepanas-panasnya daerah di atas, tetap tak akan senahas kondisi di kota megapolitan ini. ‘Panas’ saja tak cukup untuk sekedar menggambarkan keadaan Djakarta di siang hari. Harus ada tambahan variabel beberapa kosakata lain, seperti : Macet, Polusi, Gerah, Ruwet, Bising, Perang Klakson, Harga Selangit ; dan semua itu harus disertai dengan keterangan : ‘Gila parah’ !!  And well, yah, itulah Djakarta yang saat ini kutinggali bersama jutaan rakyat Indonesia lainnya.  Jadi, kukira wajar, ba...

PERGI (untuk) KEMBALI : Djakarta

Gambar
Diunduh dari :  https://pxhere.com/en/photo/1377752 Djakarta. Tak pernah terbayang, bahwa suatu hari nanti saya akan menjadi bagian dari hiruk pikuk kota metropolitan ini. Sekedar berkunjung atau berwisata 1-2 kali, masih cukup oke lah bagi saya pribadi. Namun untuk hidup luruh bersama seluruh gegap gempita Jakarta dan segala ihwal permasalahan sosialnya? Ah, kawan, saya kira negeri kita ini masih cukup luas untuk sekedar mencari tempat bermukim, bukan? Ada kota Solo yang selalu menjadi salah satu pilihan utama saya. Kecil, hangat, serba berdekatan, dan tentu tak seramai Ibukota kita ini. Atau ada pula Yogyakarta, tanah para sultan yang selalu dan selalu membuat saya rindu untuk sekedar mampir sejenak. Adem ayem, dikenal luas sebagai kota pelajar, dan yang paling membuat bangga tentu karena masyarakatnya yang luar biasa amat santun kepada para pendatang. Ditambah beberapa kota lainnya, tetap masih ada banyak pilihan selain Djakarta, bukan? Tapi, hehehe, apa daya… Mis...