Postingan

Menampilkan postingan dengan label #PergiUntukKembali

PERGI (untuk) KEMBALI : East Java

Gambar
" A tramp, a gentleman, a poet, a dreamer, a lonely fellow, always hopeful of romance and adventure. " "Seorang gelandangan, seorang pria sejati, seorang penyair, seorang pemimpi, dan seorang kesepian, selalu berharap pada percintaan (roman) dan petualangan." ~ Charlie Chaplin ------------------ Kami berdua sepertinya memang sangat klop. . Zuher, jelas, seorang laki-laki tulen, penuh mimpi nan ambisius, dan terkadang bisa nyastra sampai ke tingkat begawan. Yang belum bisa saya pastikan hanya 2 hal, apakah dia temasuk manusia-manusia yang dilamun badai kesepian, serta apakah dia sedia tuk disebut sebagai 'gelandangan' di sini. Hehe... Kalo saya lebih unik. Dibilang 'gelandangan' juga boleh, karena selama ini saya memang kerap berkelana dengan menjadi 'benalu' di rumah-rumah kawan yang disinggahi. Maklumlah, masih termasuk sobat misqueen saya, mah. Disebut kesepian pun juga tak mengapa, karena sepi dan sunyi hanyalah bumb...

PERGI (untuk) KEMBALI : Puncak Gagoan

Gambar
[Dok. Pribadi] Tempat ini merupakan salah satu spot terbaik untuk menikmati keindahan alam di sekitar Danau Singkarak, Sumatera Barat. Kalau di kitaran Danau Maninjau ada Puncak Lawang, maka di kitaran Danau Singkarak bolehlah kita menyebut nama Puncak Gagoan. Untuk menuju lokasi ini, saya harus beberapa kali nyasar dan kebablasan. Gegara hanya mengandalkan Google Maps , yang kebetulan kurang pas 'memilih' rute ( di layar tertulis ada jalur di sebelah kanan, ternyata ketika di cek hanya ada jalur kecil seukuran pematang sawah :p) , maka akhirnya saya pun hanya bisa tanya sana tanya sini kepada penduduk lokal. Mampir warung, pasang senyum manis, dikira turis mau beli cemilan, eh ternyata malah tanya arah. Hehehe.... Karena saya datang ketika jelang matahari kembali ke peraduan, maka dari sekian penduduk yang saya tanya, tidak sedikit di antara mereka yang menyangsikan niatan saya tersebut. Bahkan sampai ada yang bertanya apakah saya memang punya rencana bermalam di lok...

PERGI (untuk) KEMBALI : Mengantar Tukik Pulang

Gambar
[Dok. Pribadi] Tentang pulang, mari kita sejenak belajar dari tukik-tukik (bayi penyu) yang beranjak kembali. Sehari sebakda menetas dari telur, jelang malam, tukik-tukik ini dilepasliarkan kembali ke lautan yang menghampar luas. Agar gelap yang genap berpendar sedari petang dapat membantu menghindarkan mereka dari ancaman pemangsa, sekaligus meningkatkan peluang selamat guna meneruskan keberlangsungan hidup jenis mereka sendiri. Tapi apakah semudah itu? Tidak. Untuk kembali ke muasal, tukik-tukik mungil tadi tertatih-tatih merangkak menuju bibir pantai, berulang kali disapu buaian ombak, terhempas dan terus terhempas, sebelum kemudian mencapai laut tempat mereka berpulang. Tak ada induk yang melindungi, sebab usai bertelur, penyu-penyu betina yang menjadi ibu mereka memang lantas pergi berlalu, meninggalkan mereka tertimbun dalam gundukan pasir pantai. Yang membersamai mereka hanyalah kawan-kawan sesama tukik yang turut dihantar beriringan menuju samudera lepas. Senasib...

PERGI (untuk) KEMBALI : Pesantren Spesial

Gambar
[Dok.Pribadi] ------------------------ Jika engkau mencari sesesap arti syukur, ah, boleh jadi disini tempat yang paling tepat. Karena disini, engkau bisa menengok mereka-mereka yang tetap bisa tertawa dan tersenyum, sekalipun kondisi fisik mereka serba ada dalam keterbatasan dan ketersempitan. Jika engkau ingin belajar menghargai hidup, ah, disini kiranya juga tempat yang paling tepat. Boleh jadi, akan ada air mata yang tertumpah, ketika melihat orang-orang yang kondisi keadaannya ada di bawah kita, terus berjuang untuk hidup dan masa depan mereka. Jika engkau ingin melihat sebenar-benar ' bengkel ' kehidupan, ah, disini kiranya salah satu tempat terbaik. Para pembina pesantren sendiri yang mengatakannya, sebab tujuan mereka ialah memasyarakatkan kembali anak-anak yang selama ini kerap dipandang sebelah mata di tengah kaumnya, agar mereka dapat berdaya dan bermanfaat bagi sekitar. Jika engkau ingin bergolak bersama sekawanan angin yang bertiup damai d...

PERGI (untuk) KEMBALI : Tentang Jogja

Gambar
[Dok. Pribadi] Ada Jogja yang menjadi cerita terbaik kita hari ini. Dua kali hampir ketinggalan kereta, jelang pergi maupun kembali. Yang satu terselamatkan bersebab mengebut di jalan raya, sedang satunya berkat ngos-ngosan lari sprint di sepanjang jalur stasiun. 😥😥 Tiba di tujuan, tiga kali kami bolak-balik berjalan kaki dari ujung utara ke ujung timur, demi menunaikan kewajiban ibadah, menggenapi persyaratan, dan (yang paling membuat heboh) demi melengkapi berkas seorang kawan yang 'teledor' kelupaan. Saking hebohnya, kami bertiga sampai lupa mengisi jatah perut yang terlanjur keroncongan dari pagi. Alamakjang. 🤤🤤🤤 Terakhir ketika di Malioboro, bukannya asyik bersantai menikmati sore bersama riuh ramai di pusat wisata Kota Pelajar, yang ada kami malah justru jalan grasak-grusuk, salip kanan salip kiri seakan dikejar tagihan debt collector, demi menyusul waktu yang kian menyempit. Kali ini murni gegara ulah saya sendiri, pemandu wisata yang lebih khusyuk menawar...

PERGI (untuk) KEMBALI : Puncak Lawu

Gambar
[Dok. Pribadi] o-●-o-●-o-●-o-● Tak ada yang patut disombongkan. Tak ada yang patut dibanggakan berlebih. Yang ada hanya untaian kalimat taffakkur berikut rangkaian ucapan syukur. Karena tiap kali kaki ini mengatakan menyerah untuk melangkah, tiap kali itu pula Dia beri ganti kekuatan untuk terus maju melaju menuju puncak. Karena meski tiap kali keluh kesah itu datang menderu lisan pula pikiran, tiap kali itu pula asa demi asa perjuangan ditiupkan oleh-Nya melalui sahabat-sahabat seperjalanan nan setia. [Dok. Pribadi] Alhamdulillah! Segala puji untuk Tuhan Semesta Alam! Lewat perjalanan penuh cerita ini, saya dapat mendaras beragam makna terpenting : bahwa mendaki, sejatinya bukan tentang menaklukkan alam nan terbentang, melainkan tentang proses mengalahkan tiap kelemahan dalam diri kita sendiri; membuang secuap ego, mengubur rasa takut, serta jauh-jauh mengusir keinginan menyerah, untuk kemudian terus dan terus membersamai setiap potong jejak kaki kita hingga tiba ...

KEPING KETUJUH : Pergi (untuk) Kembali

Gambar
 ------------------ Bahwa sejauh apapun kita pergi nanti, kita tetap harus kembali ke bumi pertiwi.   Bahwa setinggi apapun kita terbang nanti, kita tetap mesti ingat daratan tempat tumpah darah kita dilahirkan.   Bahwa sehebat apapun prestasi kita menjulang di negeri orang, kita selalu akan tetap punya tanggung jawab terhadap orang-orang yang ditinggalkan di belakang. ------------------   Potret ini, meski cuma selembar gambar, sejatinya menyimpan banyak cerita dari tempat-tempat nan berjauhan. Dari Afrika Utara hingga Sumatera Barat. Dari gang-gang sempit kota Solo menuju sudut terminal kota Surabaya. Di samping saya, adalah beliau Gurunda kami, al-ustadz @fatahyasina, tetangga di kota yang sama sekaligus kakak tingkat 1 tahun di atas saya ketika masih bersekolah di Kampung 2 Menara dulu. 2015 silam, dari titik nadir yang sama, gurat takdir mengantarkan kami berpisah menuju tujuan masing-masing yang terpaut hampir seperempat lingkar bumi jauhnya....

PERGI (untuk) KEMBALI : Djakarta

Gambar
Diunduh dari :  https://pxhere.com/en/photo/1377752 Djakarta. Tak pernah terbayang, bahwa suatu hari nanti saya akan menjadi bagian dari hiruk pikuk kota metropolitan ini. Sekedar berkunjung atau berwisata 1-2 kali, masih cukup oke lah bagi saya pribadi. Namun untuk hidup luruh bersama seluruh gegap gempita Jakarta dan segala ihwal permasalahan sosialnya? Ah, kawan, saya kira negeri kita ini masih cukup luas untuk sekedar mencari tempat bermukim, bukan? Ada kota Solo yang selalu menjadi salah satu pilihan utama saya. Kecil, hangat, serba berdekatan, dan tentu tak seramai Ibukota kita ini. Atau ada pula Yogyakarta, tanah para sultan yang selalu dan selalu membuat saya rindu untuk sekedar mampir sejenak. Adem ayem, dikenal luas sebagai kota pelajar, dan yang paling membuat bangga tentu karena masyarakatnya yang luar biasa amat santun kepada para pendatang. Ditambah beberapa kota lainnya, tetap masih ada banyak pilihan selain Djakarta, bukan? Tapi, hehehe, apa daya… Mis...