Postingan

Menampilkan postingan dengan label #KepingKehidupan

KEPING KETIGA PULUH : Menyembuyikan Amal

Gambar
Pada masa khalifah Muawiyah terjadi kemarau panjang dan paceklik. Tanaman meranggas, hewan ternak mati, dan manusia kehausan.  Abdullah ibn al-Mubarak menuturkan, aku berada di Mekkah ketika orang orang ditimpa paceklik dan kemarau panjang. Mereka pun keluar ke Masjidil Haram untuk melaksanakan shalat istisqa’. Akan tetapi hujan tidak juga turun. Disampingku ada seorang laki laki berkulit hitam yang kurus. Kudengar ia berdoa,  ‘ Ya Allah, sesungguhnya mereka telah berdoa kepada Mu, namun Engkau tidak memenuhinya. Sesungguhnya aku bersumpah kepada-Mu agar Engkau menurunkan hujan kepada mereka. ’ Demi Allah, tak berapa lama kemudian, hujan pun turun kepada kami dan orang itu beranjak pergi. Aku mengikutinya hingga dia masuk ke sebuah rumah milik seorang penjahit.  Keesokan paginya, aku mendatangi rumah itu sambil membawa beberapa dinar. Didepan rumah ada laki laki. Aku bertanya kepadanya, ‘Aku ingin menemui pemilik rumah ini’ ‘Akulah orang yang engkau maksudkan’, jawabnya. ...

KEPING KEDUA PULUH SEMBILAN : Dusta yang Tak Disengaja

Gambar
Tentang menjaga kuantitas beserta kualitas ucapan, mari kita belajar menyeksamai hadis berikut. Dari Hafsh bin 'Ashim, bahwasanya suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,  كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ "Cukuplah seseorang (dikatakan) berdusta, (jika) ia menyampaikan setiap apa yang ia dengar." [HR. Muslim no.6] Tentu menjadi sebuah pertanyan bagi kita, bagaimanakah kiranya kita dianggap berdusta, sedang kita sama sekali tidak meniatkannya hal tersebut? Kebetulan mungkin ada di antara kita yang ceriwis, suka bercoleteh, dan rasanya ada kelu di lidah jika sejenak berhenti berbicara. Jadilah dia kemana-mana selalu mengambil inisiatif sebagai tukang bercerita, menyampaikan segala apapun yang dia dengar dan ketahui di hari tersebut. Dia sama sekali tak ada niatan berbohong, hanya sekedar berbagi pengetahuan informasi kepada orang-orang di sekitarnya. Ah, masakan yang seperti itu akan dianggap sebagai pendusta? Tentang in...

KEPING KEDUA PULUH DELAPAN : Jejak Kebermanfaatan

Gambar
Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan potongan kata 'AATSAAROHUM' dalam Surat Yasin ayat 12 : إِنَّا نَحۡنُ نُحۡیِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَـٰرَهُمۡۚ  "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan BEKAS-BEKAS yang mereka tinggalkan." Beliau menukilkan 2 pendapat yang semoga dapat menjadi pembelajaran bagi kita pada hari ini. Pertama, yang dimaksud dengan 'AATSAAROHUM' adalah dampak yang terjadi sesudah seorang muslim melakukan perbuatannya. Jika berdampak positif, menggerakkan orang untuk berbuat kebaikan yang semisal, maka tentu dia memperoleh ganjaran pahala. Sebaliknya, jika ternyata perbuatan yang ia lakukan justru mendorong orang untuk berbuat kejahatan serupa, maka sebagai balasannya ia akan beroleh catatan dosa di sisi Allah Ta'ala. Mudahnya, ini adalah konsep amal jariyah. Dan sebagaimana amal jariyah, dia dapat menjadi amal jariyah yang berbuah kebaikan (hasanah), dan ...

KEPING KEDUA PULUH TUJUH : Kekayaan Hati

Gambar
Syahdan di Maninjau dahulu, saya sempat membaca salah satu keping hadis singkat nan berharga. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,  لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ "Bukanlah kekakayaan itu tentang kekayaan harta benda, melainkan kekayaan sejati adalah kekayaan jiiwa (hati yang merasa cukup)." Sebuah hadist yang menggugah. Mudah dipahami susunan maksudnya, namun untuk menarik lebih jauh perihal hikmah di dalamnya, adakah sesederhana itu?  Bertahun-bertahun kemudian, saya menemukan penjelasan yang menarik dalam buku "Falsafah Hidup" , gubahan sang ulama maestro Maninjau, Buya Hamka.  Tulis beliau, kekayaan sejati adalah kekayaan hati! Karena apa-apa yang menjadi perbendaharaan hati, tak akan pernah dapat diambil oleh orang selain kita. Selamanya menjadi milik kita, tak akan bisa dipaksa beralih kepemilikan sekalipun oleh sekalian seisi bumi. Kita boleh saja jatuh...

KEPING KEDUA PULUH ENAM : Tentang Menaklukkan Dunia

Gambar
Tentang menaklukkan dunia, kebanyakan dari kita beranggapan, bahwa untuk dapat disebut 'menaklukkan dunia' seseorang harus berdiri di puncak teratas kejayaan, meraih segala-galanya, atau bahkan menjadi sosok terhebat dari siapapun selainnya. Itu menaklukkan dunia. Untuk sebagian besar orang.  Ya kan? Tapi menurut saya pribadi, ada satu tingkatan yang lebih tinggi dari sekedar definisi 'menaklukkan' di atas. Yaitu ketika kita bisa 'membuang dunia', seakan itu hanyalah hal kecil yang tak sepatutnya menguras banyak tenaga serta pikiran kita. Bayangkan, seorang manusia yang telah berhasil berdiri di puncak kemahsyuran dunia, meraih segala kemegahan yang dapat dijanjikan peradaban, lalu tiba-tiba dia pergi dan membuang itu semua. Seakan itu bukan apa-apa. Seakan itu hanyalah sesuatu yang tak patut dipermasalahkan lebih lanjut. Bukankah itu proses 'menaklukkan' yang lebih luar biasa? Menaklukkan yang lebih dari sekedar menaklukkan?  Atau mungkin seperti seoran...

KEPING KEDUA PULUH LIMA : Cemberut

Gambar
Sesekali, bolehlah kita ber-cemberut ria. Itu justru menandakan bila kita hanyalah sekadar manusia, bukan? Bahwa kita ini seutuhnya manusia, diciptakan dari sekumpulang daging, darah, dan tulang. Bahwa kita ini manusia apa adanya, begitu ringkih untuk sekadar menahan sakit yang turut terkira, atau sekedar mengarang emosi yang terlanjur tertera.  Sesekali, bolehlah kita ber-cemberut ria. Dengan itu, kita justru belajar jadi tahu bahwa raut muka kita masih seutuhnya terkoneksi dengan selaksa hati tempat perasaan kita berpadu makna.  Kita masih sempurna sebagai seorang manusia. Lengkap dengan aneka ihwal perasaan dengan segala macam tafsirannya. Nurani kita masih ada. Kemanusiaan kita tak mati. Kasing sayang kita tak surut beranjak layu. Pun amarah, rupanya masih bersisa seberapa.  Bukankah ini, sesuatu yang layak untuk kita syukuri bersama? Bayangkan, bila suatu hari nanti, raut muka tak lagi segaris haluan dengan instruksi hati dan akal.  Kasihan para politikus yang t...

Perubahan Dimulai dari Perebahan - 2

Gambar
Photo by  James Pond  on  Unsplash Tentang rebahan, ada baiknya bila kita turut menyimak kisah berikut. Suatu hari, datang menemui Khalifah Umar bin Khattab seorang utusan dari Amr bin Al 'Ash, panglima perang wilayah Mesir ketika itu. Utusan tersebut bernama Muawiyah bin Hudaij, bersamanya terbawa kabar gembira tentang keberhasilan pembebasan Kota Iskandar ke tangan kaum muslimin. Muawiyah tiba di Madinah pada waktu Zuhur. Seorang pelayan wanita datang lalu mempersilahkan dia masuk menemui sang Khalifah. Ternyata Muawiyah mendapati Umar sedang mengambil serban dan membenarkan pakaiannya. Sesudah memperdengarkan kabar yang diamanahkan kepadanya, Umar dan Muawiyah kemudian keluar menuju masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah bersama dengan yang lain. Singkat cerita, sebakda sholat, Umar menjamu Muawiyah dengan beberapa hidangan roti dan minyak.  Dan di tengah perjamuan tersebut, Umar berkata, "Apa yang kau katakan (dalam hati) ketika kau sampai di masjid tadi, wah...

Perubahan Dimulai dari Pe-rebahan - 1

Gambar
Kalian boleh protes sesuka hati terhadap judul di atas. Tapi maksud saya gini lho, sebelum kita berkoar ingin mengubah hal-hal besar di sekitar dunia kita hari ini, mari sejenak kita atur istirahat kita agak tetap tercukupi dengan baik. Istirahat itu penting. Setidaknya ada bagian dari tubuh kita yang membutuhkan rehat sejenak sebelum kembali bergulat dengan berbagai ragam masalah kehidupan. Dan itu adalah hak yang harus kita tunaikan dengan baik. Agar tidak menjadi kezhaliman pada diri sendiri. Agar tidak menimbulkan penyakit yang jauh lebih merepotkan. Menghargai waktu istirahat, bagi saya pribadi, adalah salah satu cara paling sederhana untuk sekedar ' me time '. Melindungi privasi. Mengapresiasi kerja keras yang telah kita lakukan. Bahwa kita juga punya waktu untuk pribadi kita seorang, yang -bahasa kerennya-, bahkan dunia pun tak berhak ikut campur mengganggu. Cieee , asyik yak. Haha. Bagi sebagian orang, rebahan dianggap sebagai perlambang kemalasan. Itu betu...

KEPING KEDUA PULUH EMPAT : Hari Kemenangan

Gambar
Source : Here Bila Idul Fitri adalah sempurna tentang kemenangan, lalu kepada siapakah kita saling mengalahkan? 30 hari berpacu tanpa henti, di momentum yang dikatakan setan-setan sedang terbelenggu ketika itu, sejatinya kita melawan siapa kiranya? Ah, iya juga ya. Duhai, bila dipikirkan, seluruh ikhtiar Ramadhan ini boleh jadi adalah tentang perjuangan mengalahkan diri kita sendiri. Selama di bulan suci Ramadhan, kita menyingkirkan segenap kemalasan, meniadakan kemaksiatan, menghalau kejahatan, menggiatkan ketaatan, meningkatkan kebaikan, memperbanyak permafaan, memohon ampunan, agar sempurna meraih gelar ketaqwaan di hari kemenangan. Duhai, inilah pertempuran tersebut! Pertempuran melawan hawa nafsu, yang sebagaimana disabdakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam , kadar intensitasnya jauh dan jauh lebih berat daripada Perang Badar maupun Perang Uhud sendiri. Jihad melawan musuh yang ada dalam diri kita sendiri. Lalu sanggupkah? Sebagaimana suatu kompetisi, pu...

KEPING KEDUA PULUH TIGA : Jujurlah Kepada Allah

Gambar
o-●-o-●-o-●-o-● فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ “Tetapi jikalau mereka berlaku JUJUR pada Allah, niscaya yang demikian itu LEBIH BAIK bagi mereka.”   [QS. Muhammad: 21] إِنْ تَصْدُقِ اللَّهَ يَصْدُقْكَ “Jika engkau jujur KEPADA ALLAH, niscaya Allah akan jujur KEPADAMU.”   [HR. An-Nasai] o-●-o-●-o-●-o-● Tentang semua doa-doa kita,  utarakanlah dengan sepenuh kejujuran di hadapan Rabb Yang Maha Mendengar. Tentang mimpi-mimpi yang kita harapkan,  sampaikanlah dengan sesungguh kejujuran di hadapan Rabb Yang Maha Mengetahui. Tentang kebaikan-kebaikan yang kita citakan,  panjatkanlah dengan setangguh kejujuran di hadapan Rabb Yang Maha Mengabulkan. o-●-o-●-o-●-o-● Setiap dari kita tentu punya pencariannya masing-masing. Sebuah bagian dalam lika-liku kehidupan; proses yang lalu menuntun kita pada kesimpulan jawaban kita sendiri. Inikah dia? Di hadapan padang pencarian nan luas tersebut, kita terkadang hilang ditelan arah. Diom...

KEPING KEDUA PULUH DUA : Tentang Ketenaran

Gambar
1 juta like.  2 juta viewer.  3 juta follower.  4 juta subscribers. Bilangan-bilangan yang terus dikejar, demi satu bentuk kepuasan akan makna kesempurnaan. Olehku. Olehmu. Oleh kita. Itu baik. Sungguh. Selama niat kita sempurna utuh demi kebermanfaatan pada sesama, tanpa melanggar maksud murka Ilahi, seraya membentengi darinya keberadaan ujub, takabbur, riya, dan sum’ah; mengapa tidak? Namun juga jangan terlupa, bila ketenaran pun pada hakikatnya adalah sebentuk tanggung jawab. Ujian amanah, yang tentu bakal dimintai mas’uliyyah (pertanggung jawaban) nya kelak ketika di persidangan akhirat. Tentang apa? Perihal tontonan yang menjadi tuntunan di tengah khalayak pengikut kita. Karena bila ditelisik lebih jauh, ketenaran kiranya tak berbeda jauh dengan kepemimpinan itu sendiri. Mengajak dan mempengaruhi orang-orang di sekitar untuk turut meniru dan membiasakan dengan segala yang kita pertunjukkan. Dan itulah yang mesti kita pertanggung jawabkan kelak. Kisah ...

KEPING KEDUA PULUH SATU : Bangkai Dunia

Gambar
[Source : Here ] o-●-o-●-o-●-o-● Pernah diceritakan, bahwa suatu hari, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sedang berjalan melewati sebuah pasar bersama para sahabat. Di tengah perjalanan, beliau melintasi bangkai seekor anak kambing jantan yang kedua telinganya lebih kecil daripada ukuran biasanya. Lantas sambil memegang telinga bangkai tersebut, beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam tiba-tiba bertanya, " Siapa diantara kalian yang berkenan membeli ini seharga satu dirham? ” . Orang-orang yang menyimak terheran. Seekor bangkai, dengan cacat di bagian telinga, siapa yang sedia, bukan? Maka mereka menjawab, " Kami sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya? ” . Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam masih terus mengejar, " Lalu apakah kalian bersedia jika ini menjadi milik kalian? " Orang-orang balik menjawab, " Demi Allah, sekalipun anak kambing jantan ini hidup, pasti tetap akan cacat, karena ...

KEPING KEDUA PULUH : Tentang Niat, Tentang Karsa

Gambar
[Source : Here ] Karsa adalah kekuatan jiwa yang membuat makhluk hidup bergejolak dalam lautan kehendak. Hasrat menggelegak yang mendobrak lalu merobohkan batas-batas semu yang menjadi tabir antara mimpi dan kenyataan. Karsa adalah tentang kemauan manusia. Tentang niat tak goyah yang lantas menghadirkan satu tanya nan dalam : “ Patutkah dirimu? ” o-●-o-●-o-●-o-● Syahdan, dahulu terdapat seorang Ayah dan Anak yang hendak melakukan perjalanan ke kota lain. Maka untuk hajat yang demikian, dibelilah seekor keledai sebagai sarana transportasi bagi keduanya. Namun dikarenakan uang yang mereka miliki tak terlalu mencukupi, jadilah keduanya hanya mendapatkan seekor keledai kecil, kurus, lagi sakit-sakitan. Perjalanan itu pun genap dimulai. Sang anak duduk menghela di atas pelana, sementara sang Ayah menuntun dari samping. Tatkala singgah di satu desa, beredar kasak-kusuk yang sekilas ikut terdengar di telinga keduanya. “Aih, durhaka sekali anak itu. Dia asyik terduduk di atas tung...

KEPING KESEMBILAN BELAS : Tentang Niat, Tentang Ikhlas.

Gambar
[Source : Here ] Niat itu ibarat pondasi bangunan.  Ketika terpancang begitu kokoh, gedung pencakar langit yang menjulang setinggi apapun dapat ditopang dengan penuh gagah perkasa. Namun ketika dia rapuh lagi keropos, perlahan pasti akan turut menggerogoti bangunan yang tegak di atasnya; serupa retak yang sekejab menjalar menjadi debu-debu kehancuran; menyisakan onggokan puing bekas di lahan tempat dulu bersemayam.  Tragis, bukan?  o-●-o-●-o-●-o-● Di hari kiamat kelak, ketika Allah ‘Azza wa Jalla menyeru segolongan manusia yang pertama-tama kali dilemparkan ke dalam neraka, penyebabnya pun masih serupa : tentang niat, tentang ikhlas. Siapakah mereka? Aih, mohon maaf. Sayangnya mereka bukan bagian dari sekelompok manusia yang acap kali sering disebut sebagai ‘calon penghuni neraka’ oleh masyarakat kita hari ini. Mereka bukan pelacur, bukan pencuri, bahkan bukan pembunuh. Dalam hadist yang diriwayatkan Imam Muslim, orang-orang yang pertama kali diseru untuk ...

KEPING KEDELAPAN BELAS : Tentang Senja

Gambar
[Source : Here ] Dari setiap senja yang dihelat dengan penuh gegap gempita oleh sang semesta, cerita apa yang membuat engkau kian jatuh cinta? Aduh, jangan terlanjur berharap muluk dari dongengku kali ini, kawan. Karena kuberitahu engkau, ini bukan sejenis romantika picisan yang biasa kukarang ketika kasmaran seperti baru-baru ini. Ini tentang…… senja . Dari senja, doaku sedari dahulu selalu amat sederhana. Bagaimana kiranya, lewat segenggam senja yang berlalu setiap petang di tanah tumpah darah kita ini, aku dapat selalu bersyukur darinya. Sebab aku percaya, sesiapa yang mampu bersyukur terhadap yang sedikit, niscaya lebih mudah baginya untuk kembali bersyukur manakala mendapat anugerah lebih banyak. Ya, kan? Agar semoga, dari tiap-tiap syukur yang menjadi ikhtiarku tersebut, ada secercap tafakkur yang menjadi bekal kebijaksanaan bagiku, guna menyelami lebih jauh ke dalam lautan nan kelam di relung hatiku. Meniadakan kepongahan, menghapus bala dendam, menanam benih permaafa...

KEPING KETUJUH BELAS : Hikayat Mimpi & Syukur

Gambar
[Dok. Pribadi] Mimpi-mimpi itu sempat goyah. Tercerabut dari akarnya, terpelanting dari tujuannya. Lantas, laki-laki di tengah hamparan rumput itu berkata, "Tahukah kamu, bagian apa yang paling mengerikan dari semua itu?" Tentang takut yang timbul perlahan. Bilamana kita sekedar menjadi seorang pecundang di atas sorak sorai penduduk dunia, atau menjadi yang terpinggirkan dari seluruh pusat keramaian. Kekhawatiran yang lantas menandakan bahwa kita manusia seutuhnya. "Itu belum semuanya ... " , sahutnya lirih. Bermula dari bingung tak berujung. Lalu seakan semua kian pekat menggelap. Mereka yang di sekitarmu tiba-tiba telah berlari begitu kencang, meninggalkan engkau bersama riak debu nan berhembus. Pelan, engkau mulai mengundurkan diri. Minder. Mengunci diri dalam kelamnya bayang, sembari menyalahkan diri yang tak kunjung beranjak. Sesulit itukah untuk bangkit, kawan? Cerita itu usai. "Atau mungkin, engkau gerangan yang alpa tuk bersyukur?...

KEPING KEENAM BELAS: Untuk Apa Kita Hidup?

Gambar
[Source : Here ] o-●-o-●-o-●-o-● . Di Ibukota, aku melihat banyak hal menakjubkan. . Gedung-gedung pencakar langit menjulang begitu perkasa. Beberapa menjadi kantor tempat perusahaan-perusahaan ternama bermarkas, sedang lainnya merupakan apartemen hunian bagi para borjuis Ibukota.  Mewah, berkelas, dan tentu tingginya bukan main, boi. Saking tingginya, aku sampai harus mendongakkan kepalaku 180 derajat bila ingin menengok puncak teratasnya. Aih, hebat nian, bukan? . Di Ibukota, aku juga acap menyaksikan sliweran panjang kendaraan nan mahal, yang saking mahalnya, aku bahkan merasa sangsi untuk bisa menemukannya di kota asalku. Semua saling berlalu-lalang di jalanan metropolitan, menyisakan aku yang menghirup polusi tambahan di pinggir trotoar saban hari. . Di Ibukota, setiap kali berkunjung ke pusat keramaian, aku begitu mudah menemukan aneka gerai makanan yang memasang harga selangit untuk hidangan termurah mereka. Pramusaji berlomba memasang senyum paling manis,...