Postingan

Menampilkan postingan dengan label #ODOP7

Mengenal Bang Zen, Sohib Aliyah di ODOP Batch 7

Gambar
[Yang Sebelah Kiri, Jaket Hitam. Source : IG Beliau] Nama beliau Bang Zen. Lengkapnya Muhammad Zaini. Saya pertama kali mengenal beliau ketika menjalani Aliyah di Kampung 2 Menara, sebuah pondok pesantren di kaki Gunung Lawu. Beliau kakak tingkat satu tahun di atas saya. Selama menjalani hari-hari di pesantren, banyak cerita yang terjalin erat diantara kami. Ada malam-malam ketika kami sama berjuang demi mendapat setoran hafalan buat besok pagi. Ada hari-hari dimana kami berjibaku bersama terlibat dalam proyek ambisius yang serupa. Momentum momen yang penuh warna dan cerita. Oh iya, di OSIS Aliyah, beliau menjabat sebagai sekretaris. Tahun berikutnya, gantian saya yang menjabat sebagai sekretaris. Banyak hal-hal baru yang saya pelajari dari beliau. Mulai dari mekanisme pengaturan nomor surat resmi, sampai tips dan trik ketika mengajukan surat ke atasan. Bagi sebagian orang mungkin terasa amat remeh temeh, tapi justru hal-hal kecil seperti itulah yang kemudian banyak memban...

CERBUNG : Mimpi di Ujung Meja Hijau (Bagian Akhir)

Gambar
[Source : Here ] ------------------------------ “Baiklah, setelah sedikit berdiskusi, akhirnya kami para hakim sepakat untuk memvonis terdakwa Basuki Rahmat, selaku Direktur PT.Asta Bangun, sebagi pelaku dalam tindak pidana korupsi pengadaan bantuan sekolah yang merugikan negara sebesar Rp 9,6 miliar rupiah. Setelah melalui berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk menjatuhkan hukuman kepada terdakwa sesuai dengan tuntutan yang diajukan Jaksa Penuntut yang berupa hukuman 5 tahun 6 bulan penjara ditambah dengan denda 500 juta beserta kewajiban untuk mengganti kerugian negara.”, kataku lantang yang diikuti dengan ketokan palu yang khas. “ Tok..tok..tok.. ” Setelah membacakan vonis itu, pikiranku jadi sedikit buram. Aku agak lupa dengan detail jalannya sisa sidang tersebut. Yang pasti, ketika itu kamu mengajukan banding ke Mahkamah Agung. Berharap mendapat vonis yang lebih ringan dari yang kubacakan. Dan yang pasti juga, sebelum sidang ditutup aku tidak akan pernah melupakan...

CERBUNG : Mimpi di Ujung Meja Hijau (Bagian 4)

Gambar
[Source : Here ] ----------------------------- Kejadian suram itu terjadi sekitar 27 tahun yang lalu. Itu adalah masa-masa dimana aku seharusnya mendapatkan curahan kasih sayang yang cukup dari kedua orangtuaku. Saat itu aku masih ingat jelas kalau aku masih duduk di bangku kelas 3 SD. Ayahku ditangkap oleh pihak berwenang saat beliau sedang mengantarkan aku ke sekolah SD-ku. Penangkapan itu sendiri terjadi di depang mataku sendiri. Dan terjadi begitu cepat. Tak kurang dari 15 menit ayahku telah dibawa entah kemana. Aku sendiri hanya berdiri melongo ketika menyaksikannya dari balik pagar sekolah. Sayangnya, bukan aku saja yang menyaksikan kejadian itu. Seluruh penghuni sekolah pun turut melihat kejadian itu!! Dan itulah yang menjadi berita buruk bagiku di hari-hari mendatang. Seluruh murid sekolah mengejekku sebagai anak penjahat kapanpun aku berada di dekat mereka. Tidak ada seorangpun diantara mereka yang mau berteman denganku. Aku dikucilkan bahkan oleh teman sebangkuku. Ketik...

CERBUNG : Mimpi di Ujung Meja Hijau (Bagian 3)

Gambar
[Source : Here ] --------------------- “Kenapa kamu begitu terobsesi dengan impian konyolmu itu?” tanyamu setelah aku menjawab pertanyaan yang selalu menjadi awal pembicaraan kami tiap kali bertemu. “Kenapa pula kamu mengatakan impianku itu konyol? Bukankah itu sesuatu yang didamba-dambakan oleh masyarakat negeri ini?”, jawabku sok ilmiah.  Aku benar-benar heran, ini pertama kalinya kamu mengatakan impianku itu konyol. Dan ini pertama kalinya pula kamu mencoba berbincang-bincang jauh lebih mendalm tentang mimpiku itu. Dalam perjumpaan sebelum-belummya, kita pasti sudah berganti topik sebelum sempat membicarakan hal itu. Film dan novel rasanya jauh lebih asyik untuk dibahas olehmu daripada repot-repot membicarakan impianku itu.   “Memang mulia bagi mayoritas rakyat kecil di negeri ini. Tapi itu terlihat amat konyol untuk orang-orang berpengaruh di negeri ini. Mereka pasti tertawa terbahak-bahak saat mendengar impianmu itu.”, katamu diiringi dengan seny...

CERBUNG : Mimpi di Ujung Meja Hijau (Bagian 2)

Gambar
[Source : Here ] ---------------------- “Apa mimpimu di masa mendatang?”, tanyamu di suatu senja. “Aku ingin menjadi orang yang memberantas korupsi di negeri ini”, jawabku santai. Jawaban itu meluncur dari bibirku yang masih berusia sepuluh tahun. Selisih 3 tahun denganmu yang saat itu duduk di kelas 6 SD. Kamu ingat, ekspresi wajahmu saat aku menjawab pertanyaanmu itu? Kamu mengernyit keheranan ketika itu. Seakan-akan berkata jika aku membicarakan suatu hal yang mustahil. Tapi bahkan setelah 10 tahun berlalu, kamu tetap saja menunjukkan ekspresi yang sama. Padahal kamu sudah mendengar jawaban itu 10 kali selama ini. Ya, kamu selalu bertanya hal yang sama tiap kita bertemu setahun sekali. Selalu saja pertanyaan itu yang menjadi awal dari pembicaraan kita ketika bersantai di halaman belakang rumah nenek. Dan selalu jawaban itu pula yang keluar dari mulutku. Selalu saja sama. Kalaupun berubah, paling-paling hanya bertambah rinci saja. Karena sejak aku memasuki jenjang SMP,...

CERBUNG : Mimpi di Ujung Meja Hijau (Bagian 1)

Gambar
[Source : Here ] “Seharusnya ini adalah hari terbaik dalam karirku!!”, umpatku dalam hati. Ya,semestinya hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagiku. Hari dimana aku untuk kesepuluh kalinya memimpin sebuah sidang korupsi dengan terdakwa kelas kakap. Sungguh, suatu alasan yang cukup bagiku untuk bangun begitu pagi dan berpakaian amat rapi di hari ini. Sayang,  semuanya hancur begitu aku mengetahui bahwa dirimulah yang akan duduk di kursi pesakitan siang ini. Beberapa hari yang lalu, ketika dikabari pertama kali, aku masih kurang yakin. Ketika itu aku hanya berharap jika nama ‘Basuki Rahmat’ itu akan merujuk ke orang lain. Bukan dirimu yang pernah kukenal 25 tahun yang lalu. Selain itu, aku juga yakin jika ada ratusan orang diluar sana yang memiliki nama pasaran seperti namamu itu. Bahkan, aku memiliki 3 kontak di Whatsapp -ku yang semuanya memakai nama itu. Kini, keraguanku itu terjawab. Dan hal itulah yang sukses membuat aku merana di siang ini. Bukan, aku buka...

Rahvayana : Kisah Kasih Rahwana

Gambar
[Source: Here ] Alengka genap bergemuruh. Peperangan ini akan segera berkecamuk ke titik puncak pementasan, dengan kematian salah satu di antara Rama atau Rahwana sebagai tirai penutupnya. Siapakah yang layak berdiri sebagai pemenang? Alengka bergemuruh. Begitu kencang, sekencang gemuruh di dada sang durjana negeri, Rahwana. Saat ini dia sedang bersiap menyongsong palagan terakhir bukti kisah kasihnya kepada sang Kekasih, Dewi Sinta. Dia akan berangkat seorang diri. Wibisana, sang adik, beberapa waktu silam berpindah kubu ke pihak Rama, mengkhianati negeri tumpah tumpah darahnya sendiri sekaligus mengingkari sumpah setianya sebagai seorang ksatria kerajaan. Kumbakarna, adiknya yang lain, gugur gagah berani sebakda memporak-porandakan setengah pasukan musuh, menyongsong kematian seiring tembakan panah Rama yang memisahkan badan beserta kepalanya. Dan Indrajit, anaknya yang mahasakti, ikut gugur setelah ritual ajiannya diganggu secara pengecut oleh Laksmana dari pihak Rama. Ta...

[BookReview] Sejarah Dunia Kuno

Gambar
Judul : Sejarah Dunia Kuno – Dari Cerita-Cerita Tertua Sampai Jatuhnya Roma Penulis : Susan Wise Bauer Penerjemah : Aloysius Prasetya A. Penerbit : Elex Media Komputindo, 2017 ISBN : 978-979-27-9043-6 Bahasa : Indonesia Jumlah Halaman : 1002 halaman Pengarang : Susan Wise Bauer --------------------------- 1000 halaman! Dengan jumlah halaman setebal itu, rasanya wajar jika buku ini kemudian menjadi salah satu buku terpanjang yang pernah saya baca. Ajaibnya, ini bukan sejenis novel atau dongeng yang kerap menjadi genre favorit saya. Ini adalah buku sejarah, boi. Sejarah umat manusia. Alamakjang !  Belajar sejarah memang sering menjadi momok menjenuhkan. Narasi-narasi yang dibuat untuk menceritakan peristiwa di masa lampau biasanya amat monoton dan membosankan. Tidak mengundang gairah, bahkan malah justru mengundang kantuk. Wajar jika generasi muda kemudian merasa alergi, bukan? Namun tidak demikian halnya dengan buku ini. Penulisnya, Susan Wise ...

Tentang Menulis

Gambar
[Source: Here ] Menulis adalah sebentuk ikhtiar kemerdekaan.  Untuk meng-ada-kan sesuatu yang mulanya tidak ada.  Untuk mencipta-nyatakan segala yang awalnya berwujud gagasan menjadi sebentuk bacaan.  Untuk menelusuri sepanjang jalan ketidaktahuan hingga tuntas tiba di penghujung noktah penanda akhir simpul pembelajaran.   Menulis adalah tentang keberanian.  Untuk bebas bersuara dan mengabadikan karya pikiran.  Lalu siapkah? ------------------ Jika diminta memilih apakah akan menulis fiksi atau non-fiksi, saya jelas akan tetap memilih dua-duanya. Alasannya sederhana. Saya hanya ingin berkarya dengan bebas. Menghadirkan cerita-cerita terbaik dari belahan penjuru dunia, agar semoga dapat meninggalkan jejak di hati para pembaca. Menyajikan batas-batas imajinasi agar semoga dengannya dapat menginisiasi satu-dua kebermanfaatan bagi kita bersama. Menulis non-fiksi tentu amat menjanjikan. Dalam dunia akademik, kemampuan menulis aneka ragam...