Menyesap Kopi dan Menatap Hujan
Photo by Ian Keefe on Unsplash Ketika hujan turun, kita bergegas lari mencari tempat teduh. Namun anak-anak kecil justru tergesa menyongsong air yang tumpah ruah dari langit. Mereka menari bahkan berlari, seakan hujan adalah berkah yang datang satu dasawarsa sekali. Melihat itu, seringkali sebagian dari diri kita ikut memberontak. Hasrat alami akan masa kanak yang telah terlewat, serta keinginan untuk sekali lagi menyesap kesenangan yang tiada duanya tersebut. Di momen itu, kita berhadap-hadapan dengan panggilan yang pernah menghiasi diri kita. Godaan berjudul : “Aku ingin hujan-hujanan.” Bagi dunia kita hari ini, bersikap kanak-kanak sesudah masa pubertas adalah sebuah aib. Dewasa adalah dewasa. Masa kanak serta remaja merupakan sesuatu yang telah lama berlalu. Kita dituntut membuang sikap ‘anak-anak’ dalam diri kita. Maka indikasi paling jitu adalah saat kita melihat anak-anak bermain dengan bebasnya, namun kita merasa gengsi untuk ikutan, menganggap kita ‘bukan level-nya...