Postingan

BATAVIA’s DIARY : Ramadhan Ibukota

Gambar
[Dok. Pribadi] ●-o-●-o-●-o-● . Dear Diary, . Ini Ramadhan pertamaku di kota Batavia. Dibandingkan dengan Maninjau yang sama-sama merupakan tempatku merantau, tentu ada begitu banyak perbedaan yang hadir diantara keduanya. . Maninjau begitu tenang. Pelosok tepi danau nan indah, saban maghrib di sana terasa begitu syahdu, terlebih bila seisi pesantren diundang berbuka di rumah-rumah penduduk. Aih, nikmatnya. . Djakarta tak begitu. Sempurna berbalik 180 derajat. Di Ibukota, gema alunan adzan berbuka, lumrah terdengar beriring bersama dengan bunyi klakson jalanan. Saling bersahut, di tengah puncak kemacetan metropolitan. . Bahkan di hari pertama Ramadhan, aku genap melewatkan waktu berbuka di atas sepeda motor yang asyik menyibak kerumunan panjang antrian kendaraan. Dengan sebiji kurma, bismillah, sambil tetap menge-gas laju, berbukalah kami ketika itu. . Apakah terasa cukup menyenangkan? Ah, tentu tidak, kawan. Seorang diri, jauh dari kehangatan rumah tempat keluarga terde...

CATATAN GURU RANTAU : Tentang Mendidik dan Mengajar

Gambar
Tidak semua orang dapat berkesempatan menjadi pengajar. Tetapi, semua yang berkompeten, bisa menjadi pendidik yang baik dimanapun ia berada. Di tempat-tempat pengabdian dimana saya sempat singgah sejenak, terutama di tanah rantau Maninjau dan di kampus pinggir kota Solo, saya belajar banyak hal tentang perbedaan keduanya. Bahwa mendidik bukan sekedar berdiri di depan kelas, lalu berkata beberapa patah kata di hadapan para murid, dan kemudian bergegas undur diri setelah memberi setumpuk tugas. Bahwa mendidik bukan sekedar menyampaikan beberapa materi pelajaran, menjelaskan mana yang dirasa sulit dimengerti, dan kemudian mengadakan ulangan mendadak di akhir pekan berikutnya. Bahwa mendidik bukan sekedar menjadi guru atau kepala sekolah, dimana kesehariannya berjibaku dalam menggodok kurikulum sembari terus mengevaluasi mana yang sekiranya masih kurang maksimal. Di tempat-tempat tersebut saya belajar memahami bahwa mendidik merupakan sebuah perjalanan proses maha panjang. Mencakup d...

Batavia’s Diary : Another Beginning

Gambar
Dear Diary, Apa kabar, Djakarta? Ah, kota ini akan selalu tampak baik. Bahkan dari hari ke hari, kota ini kian maju dan modern. Lalu, apa kabar diriku yang kini? Aha, ini dia kawan, yang baru agak sedikit mengkhawatirkan. Kabarku kurang baik. Bahkan sepekan pertama di Ibukota ini, aku justru terkapar sakit di kamar kontrakan. Mual, muntah, pusing, hingga puncaknya tekanan darahku sempat turun ke titik nadir. Djakarta rupa-rupanya memang berbeda jauh dari Solo, Jogja, apalagi Manindjaoe. Sepanas-panasnya daerah di atas, tetap tak akan senahas kondisi di kota megapolitan ini. ‘Panas’ saja tak cukup untuk sekedar menggambarkan keadaan Djakarta di siang hari. Harus ada tambahan variabel beberapa kosakata lain, seperti : Macet, Polusi, Gerah, Ruwet, Bising, Perang Klakson, Harga Selangit ; dan semua itu harus disertai dengan keterangan : ‘Gila parah’ !!  And well, yah, itulah Djakarta yang saat ini kutinggali bersama jutaan rakyat Indonesia lainnya.  Jadi, kukira wajar, ba...

A-Ambisi

Gambar
Ambisi itu persis seperti bidikan memanah. Di mata terlihat dekat dan mudah, namun sesungguhnya sangat susah untuk menyasarinya. . 2 Pekan lalu, ketika belajar memanah di Jakarta bersama coach @zanky_archer , barulah saya paham bahwa memanah bukan sekedar olahraga menarik busur dan melepas anak panah begitu saja.  Untuk menyasar sasaran 3 m dengan tepat, setidaknya saya butuh 30 kali tembakan. Itupun belum bisa tepat di titik lingkar tengahnya. Padahal secara zhahir, sasaran tersebut hanya sejarak lemparan batu dari tempat saya berdiri. Dan itupun sudah jadi standar paling ringan untuk ukuran pemula. Tapi ya karena itu tadi, kok ya tetap susahnya ternyata minta ampun. . Jarak 3 Meter. Dekat di mata, tapi ya susahnya ternyata minta ampun untuk pemula seperti saya... Maka dari situ saya mengerti dan memahami, bahwa ambisi kita persis layaknya bidikan memanah. Serasa dekat, namun ketika coba diraih ternyata susahnya minta ampun. Berapa banyak di antara kita, te...

Kamu dan Mentari Pagiku

Gambar

KEPING KEENAM : Ketidaktahuan yang Menyelamatkan

Gambar
- ---------- Dalam banyak hal, ketidaktahuan terhadap sesuatu memang identik dengan kebodohan, kelemahan, dan kekurangan. Tapi dalam beberapa hal lainnya, ketidaktahuan terhadap sesuatu adalah anugerah, yang dengan itu justru menyelamatkan kita dari beragam madharat nan berbahaya. ----------- Di Maninjau, 2 tahun silam, saya punya seorang kawan unik. Setiap kali kami akan bertukar cerita, dia selalu bertanya terlebih dahulu, "Eh, ini tentang kejelekan orang lain, enggak? Kalau iya, mending aku gak usah tahu aja deh..Takut ntar malah kelepasan ngomong ke orang lain.." atau lain waktu berkata seperti ini, "Eh, ini tentang hal rahasia ya? Kalau iya, mending aku gak ikutan aja, deh... Takutnya nanti malah bocor di aku nya..." Begitulah. Ketika dia bicara demikian, saya biasanya hanya geleng-geleng kepala sembari membatin, "Lha ndilalahe, kok ada ya orang kayak dia...ehe." Di zaman serba kepo ini, sangat susah menemukan karakter semacam ...

KEPING KELIMA : Aroma Hujan

Gambar
Tentang Hujan, aroma apa yang langit hidangkan untukmu, kawan? ----------- Petang ini, Markaz Iqro, -tempatku bermukim- , tetiba diguyur hujan lebat. Kali pertama di bulan Ramadhan tahun ini. Air tumpah ruah, begitu deras, seakan bersuka ria kembali bersua dengan bumi pertiwi. Aku ikut terhanyut. Dalam pusaran tegun tiada ujung, menyeksamai setiap tetes kurnia langit yang turun mengguyur tanah dari tepian genteng. Aroma hujan sore ini begitu kental dengan bau nostalgia seperti biasanya. Ada sesesap rindu yang acap kali tertitipi ketika hujan turun. Bagi sesiapa yang pernah bersinggung jalan takdir dahulu, dan bagi setiap masa yang telah genap tergenapi di belakang, hujan seakan memanggil penuh hasrat untuk yang semua itu. Mengalir tak tertahan, mengisi relung hati nan terdalam, bersama dengan rintik rinai hujan yang turun tak terbendung dari langit. Hujan dan rindu sedari dulu memang pasangan yang serasi. Se-serasi teh dan gula yang menjadi menu takjil berbuka ku...